Home Kolom Dosen Integrasi Keilmuan dalam Al-Qur’an

Integrasi Keilmuan dalam Al-Qur’an

75
0
SHARE

Pada saat ini manusia tengah mengalami kemajuan yang demikian pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat ilmu pengetahuan tidak henti hentinya  meneliti, melakukan observasi dalam semua hal dan ber inovasi baik dalam bidang ilmu sosial maupun ilmu eksak, untuk munculnya satu produk yang baru baik pemikiran maupun hasil penelitian dan eksperimen  yang lebih baru dan canggih dari sebelumnya. Hal ini penunjukkan bahwa kegiatan berfikir tak pernah berhenti sepanjang hidup manusia.

Inilah satu keniscayaan hidup.  Pada saat ini hampir tidak ada sisi kehidupan umat manusia yang belum tersentuh teknologi. Yang paling menonjol pada saat ini adalah teknologi informasi yang merambah kepada umat manusia di seluruh dunia. Hal ini berdampak pada arus globalisasi yang tidak terbendung yang mempengaruhi banyak hal, baik dalam bidak politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Dalam dunia politik, ekonomi, budaya masyarakat dunia banyak berkiblat ke model masyarakat di dunia barat. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat ini dunia barat masih menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun menjadi catatan bahwa modernisasi ala barat mengakibatkan corak kehidupan manusia menjadi semakin matrialistis dan  individualistis dan  tereliminasinya nilai nilai, kultur, budaya lokal dari kehidupan masyarakat lokal. Mindset masyarakat masa kini terfokus pada materi. Kedudukan seorang di masyarakat juga karena materi. Semakin banyak materi semakin di hargai. Sikap hidup semacam ini menyebabkan  masyarakat modern banyak cenderung terhadap ilmu pengetahuan yang berdampak pada masa depan mereka dalam kehidupan materi seperti kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu hukum dan lain sebagainya. Banyak sekali mahasiswa dari banyak Negara dikirimkan ke Negara Negara maju walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Mereka menganggap bahwa biaya yang dikeluarkan adalah bagian dari investasi untuk masa depan anak anak mereka. Jika mereka bisa bekerja pada dunia yang mereka geluti, maka investasi itu akan kembali lagi.

Dengan sudut pandang yang demikin ini maka pandangan mereka terhadap ilmu pengetahuan juga berbeda.  Tidak mengherankan jika ada cabang ilmu pengetahuan yang subur, banyak diminati oleh masyarakat dan banyak pula cabang ilmu pengetahuan yang sepi peminat. Diantara cabang ilmu pengetahuan yang merana adalah ilmu ilmu sosial. Dari sekian banyak cabang ilmu pengetahuan sosial yang ada, ilmu pengetahuan agama, terutama agama islam,  ikut terimbas seiring dengan pergeseran makna kehidupan dalam masyarakat.  Indikator dari tereliminasinya ilmu ilmu agama dari percaturan keilmuan adalah semakin sedikitnya masyarakat ilmiyah yang menggeluti ilmu agama islam, kecuali di lingkungan tertentu yang telah mewarisi peninggalan nenek moyang mereka, semisal pesantren. Semakin sedikit yang mengaji kitab kitab kuning yang berat berat. Masyarakat keilmuan islam sekarang tidak lagi mau bersusah payah dengan mengaji kitab kitab besar dengan menuliskan makna pada setiap kalimat. Tapi cukup dengan kitab kitab terjemahan dan kitab yang sudah ada makna gundulnya. Semakin hari semakin sedikit ulama yang ahli dalam ilmu keagamaan. Apakah ini berarti proses menuju ke hilangnya ilmu agama dari ranah kehidupan umat manusia ?  Zamanlah yang akan menjawab.

Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Manusia dipilih oleh Allah dari sekian banyak makhlukNya sebagai “Khalifah” di bumi. Walaupun Malaikat ingin mengetahui hikmah dari pemilihan ini, karena menurut mereka manusia mempunyai potensi untuk berbuat kerusakan di bumi, dan mempunyai potensi untuk saling membunuh. Allah terus dengan rencana besarNya, karena Dia mengetahui terhadap semua pilihanNya, apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat. Allah kemudian  mengajarkan kepada Nabi Adam pengetahuan tentang segala sesuatu. Para mufasir berbeda pendapat tentang kalimat “ al-asma’ kullaha” seperti dalam ayat : 30 surah al-Baqarah, apa yang dimaksud dengan nama nama yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam?. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan beberapa pendapat yaitu :

  1. Satu persatu dari nama anak cucunya, nama binatang seperti Himar, onta dan kuda.
  2. Manusia, binatang yang melata, langit, bumi, dataran rendah, pegunungan.
  3. Piring, periuk (kendil,jawa), kentut besar, kentut kecil.
  4. Nama setiap binatang yang melata, dan dan burung burung, dan nama dari segala sesuatu.
  5. Nama para Malaikat, nama bintang bintang. (Lih. Ibnu Katsir, tafsir : 1/223, Maktabah Syamilah).

Dari semua pendapat tersebut ada yang bisa ditarik benang merah yaitu :

Pertama : bahwa Allah mengajari Nabi Adam semua yang akan menjadi obyek dari ruang lingkup kehidupan manusia di dunia. Hal ini dilakukan agar jika kelak manusia menghuni bumi ini, mereka sudah mengetahui nama dan kegunaan nama benda benda tersebut.

Kedua : mengisyaratkan akan jati diri manusa sebagai makhluk yang “berfikir”, makhluk “ilmuwan”,  makhluk yang mampu mempelajari, meneliti, mengobservasi  segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Ketiga : semua riwayat diatas tidak ada yang mengarah kepada pengetahuan tentang materi agama, justeru materi umum. Dengan pengetahuan tentang materi umum ini, manusia sangat pantas untuk menjadi pemimpin di bumi. Malaikat harus menghormat kepada manusia.

Dari pemaparan diatas bisa kita katakan bahwa faktor yang paling dominan dari terpilihnya Nabi Adam sebagai Khalifah adalah kesediaannya menerima ilmu pengetahuan, melalui otak dan akalnya yang mampu menyimpan data nama segala sesuatu, lalu mengolahnya, sehingga menjadi bahan untuk menentukan langkah yang akan dilakukannya. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain selain manusia.

Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan

Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat memperhatikan ilmu pengetahuan.  Jika pada saat Allah akan menciptakan Nabi Adam, Allah membekalinya dengan ilmu pengetahuan, maka pada lima ayat pertama yang turun pertama kali kepada Nabi Muhammad, juga berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Kalimat kalimat pertama yang diwahyukan kepada nabi Muhammad adalah : kata : “iqra’ (bacalah), ‘Allama (mengajarkan), “al-Qalam”(pena, alat untuk menulis ilmu). Sementara subyek dari ilmu pengetahuan adalah “al-Insan” atau manusia. Pada bagian lain, Al-Qur’an sangat banyak menggunakan kosa kata yang berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan seperti :”Ilmu, ma’rifah, fikr, ‘aql, tadabbur (menghayati), nazhar (melihat dengan otak atau mata), qira’ah (membaca), tilawah (membaca ) dan lain sebagainya. Banyaknya kosa kata yang menggunakan atribut keilmuan mengisyaratkan akan pentingnya ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an sangat menghargai mereka yang ber ilmu pengetahuan. banyak ayat ayat yang mengisyarahkan tentang hal itu antara lain :

  1. Malaikat diminta ber “sujud”kepada Nabi Adam, setelah Nabi Adam mampu mengtahui nama nama benda, apa yang tidak diketahui oleh Malaikat.
  2. Orang yang berilmu disertakan dengan Allah dan para Malaikat dalam hal bersaksi tentang keesaan Allah (Ali Imran : 18).
  3. Orang yang berilmu mampu memenangkan sayembara untuk mendatangkan singgasana ratu Balqis dari Yaman menuju Palestina dalam waktu yang sangat singkat (an-Naml : 40).
  4. Binatang hasil buruan dari binatang pemburu yang telah dilatih diberi ilmu pengetahuan, seperti anjing pemburu, hukumnya menjadi halal (al-Ma’idah : 5).
  5. Orang berilmu berbeda dari orang yang tidak berilmu (az- Zumar: 9). Ayat ini tidak membedakan antara ilmu yang bersumber dari wahyu dan yang bersumber dari akal (filsafat).
  6. Allah menyebutkan “ar-Rasikhun fil ‘Ilmi” (mereka yang mendalam ilmu pengetahuannya) sebagai kelompok yang dipuji (Ali Imran : 7,an-Nisa’: 162).

Hadis hadis nabawi lebih banyak lagi penegasan akan pentingnya mencari ilmu dan penghargaan nabi kepada mereka yang berilmu.

Diskursus Ilmu Umum dan Ilmu Agama

Dalam kehidupan nyata kita melihat dunia keilmuan terbagi menjadi dua bagian, pertama : ilmu ilmu agama atau ilmu “Naqli”. Kedua : ilmu ilmu umum atau Ilmu “naqli”. Ilmu agama adalah ilmu yang bersandarkan kepada wahyu, seperti ilmu ilmu keislaman dan penunjangnya, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu nahwu, shorof, balaghah, ilmu sirah nabawiyah, dan lain sebagainya. Sementara Ilmu Umum adalah ilmu hasil kajian filsafat/akal, seperti ilmu kedokteran, ilmu bumi, ilmu al-jabar, ilmu ukur, ilmu fisika, ilmu geometri, ilmu music, olah raga dan lain sebagainya.

Kedua rumpun ilmu tersebut sangatlah besar manfaatnya bagi masyarakat. Ilmu agama berfungsi untuk meluruskan jalan hidup manusia, sementara ilmu umum berfungsi untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi mudah dan sejahtera secara lahiriah. Imam Syafi’i dalam salah satu pernyataannya  yang terkenal mengatakan : “Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah berbekal ilmu pengetahuan. barang siapa yang ingin akhirat, hendaklah berbekal ilmu pengetahuan”  (Lih. Tafsir as-Siraj al-Munir:4/231, Maktabah Syamilah)

Namun dalam realita masyarakat, ada yang memandang ilmu umum dengan sebelah mata, terjadi dualisme dalam memendang ilmu. Ada juga yang sebaliknya. Dari mindset berfikir semacam ini,  berdampak pada sistim pendidikan di dunia islam. Kita melihat ada institusi pendidikan yang hanya melulu mengajarkan ilmu ilmu agama ansich. Pada pihak yang lain ada institusi pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu ilmu umum saja dan sama sekali tidak ada pelajaran agama. Sebagaimana system pendidikan yang ditinggalkan oleh Belanda pada masa lalu dan yang masih mengikutinya pada masa kini.

Sebenarnya kedua pendangan tersebut perlu diluruskan. Keduanya berada pada dua kutub yang saling bersebelahan. Ilmu agama penting agar kehidupan bisa lebih bermakna dan manusia bisa berjalan di jalan yang benar. Namun ilmu umum juga penting untuk kebutuhan hidup manusia baik baik primer (dlaruriyyat) maupun sekunder (hajiyat). Ilmu umum juga untuk kesejahteraan manusia dan kehidupan menjadi semakin mudah, lahannya juga lebih luas. Dari kedua kutub pemikiran itu ada kutub yang menyikapi perbedaan ini dengan bijak yaitu kutub yang menghargai keduanya. Implikasi dari ketiga kutub pemikiran ini tampak dari beragamnya sistim pendidikan di dunia islam.

Al-Qur’an dan Integrasi Ilmu Pengetahuan

Tidak bisa disangsikan lagi bahwa Al-Qur’an telah mengisyarahkan dengan jelas akan pentingnya ilmu pengetahuan baik pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Al-Qur’an tidak memisahkan diantara keduanya.inilah landasan idiil dalam melihat persoalan ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an dan Ilmu Naqli:

Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang memberikan bimbingan kepada manusia agar mereka selamat di dunia sampai akhirat. Al-Qur’an menghimbau kepada pembacanya untuk taat kepada Allah dan kepada rasulNya. Al-Qur’an juga menyeru untuk membaca, mempelajari kitab suci ini agar menjadi pedoaman dalam kehidupan. Seruan yang demikian ini mengharuskan adanya kelompok yang menekuni ajaran agama islam. Firman Allah dalam hal ini adalah :

{وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)} [التوبة: 122]

Artinya : Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.

Yang menarik dari ayat diatas adalah penggunaan kata : “Tha’ifah” yang artinya kelompok kecil. Kata “Firqah”adalah kelompok besar. Artinya bahwa Allah tidak menghendaki semua manusia terjun ke bidang ilmu ilmu agama, tetapi Allah menghendaki yang terjun dalam menekuni ilmu agama adalah sebagian kecil saja. Dalam kenyataannya, para sahabat yang ahli dalam bidang ilmu agama, seperti ahli tafsir, ahli hadis, ahli fikih sangatlah sedikit. Bisa dihitung dengan jari.  Hal ini bisa dipahami bahwa Allah tidak ingin membebani manusia dengan pembebanan yang berat dengan ilmu ilmu agama.

Pada sisi lain, Jika kita meneliti lebih jauh, ternyata dari 6236 ayat yang ada dalam Al-Qur’an, hanya sekitar 500 ayat saja-menurut perhitungan Imam al-Ghazali- yang bertalian dengan hukum (Lih. al-Manar: 3/150). Syekh Abdul Wahhab al-Khallaf  dalam kitabnya : “Ushul al-Fiqh wa Khulashah Tariks at-Tasyri’ al-Islami “ Juz 1/135 (Lih. Maktabah Syamilah): menghitung ayat ayat hukum yang terkait dengan” al-Ahkam al-‘Amaliyyah” yang terdiri dari Ahkam al-‘Ibadat dan Mu’amalat. Ahkam ‘Ibadat terdiri sekitar  140 ayat. Sementara ayat yang terkait dengan  ‘Mu’amalat” sekitar 200 ayat.   Selanjutnya Syekh Khallaf menghitung dengan rinci jumlah ayat yang terkait dengan bidang mu’amalat dalam Al-Quran sekitar 238 ayat saja dengan rincian sebagai berikut :

  1. Hukum kekeluargaan (al-Ahwal asy-Syakhshiyyah) : 70 ayat.
  2. Hukum Perdata (al-Ahwal al Madaniyyah) : 70 ayat.
  3. Hukum Pidana : (al-Ahkan al-Jina’iyyah) : 30 ayat.
  4. Hukum Acara (ahkam al-Murafa’at): 13 ayat.
  5. Hukum kelembagaan/perundang undangan (al-Ahkam ad- Dusturiyyah): 10 ayat.
  6. Hukum Hubungan Internasional (al-Ahkam ad- Dauliyyah): 25 ayat.
  7. Hukum Ekonomi dan Keuangan (al-Ahkan al-Iqtishadiyyah wa al-Maliyyah): 10 ayat.

Begitu juga yang dikemukakan oleh Yahya bin Husen, jumlah ayat ahkam sekitar 236 ayat saja (Lih. mukadimah kitab “al-‘Awashim min al-Qawasim, al-Wazir al-Yamani (w 840 h) Maktabah Syamilah). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an lebih menitik beratkan pada persoalan akidah. Bisa dikatakan bahwa tidak ada satu ayatpun dalam Al-Qur’an kecuali ada unsur akidahnya baik secara eksplisit atau implisit.

Dalam perkembangan ilmu ilmu keislaman, kita menjumpai kaum muslimin berada pada periode kesuraman, yaitu sekitar abad abad ke 8-13 hijri. Pada periode ini kaum muslimin tidak lagi mampu berbuat banyak dalam pengembangan keilmuan. Karya mereka tidak lain hanya pengulangan dari masa sebelumnya. Jika hal itu terjadi pada ilmu ilmu keislaman, begitu juga yang terjadi pada ilmu ilmu umum.  Masyarakat apatis terhadap ilmu umum, kecuali setelah munculnya gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh Rasyid Ridla, Amir Syakib Arselan, dan lain lainnya.

Al-Qur’an dan Sain & Teknologi

Dalam Al-Qur’an ada istilah “Ulama” . term ini digunakan untuk mereka yang berpengetahuan yang mendalam baik bidang agama maupun dalam bidang umum. Kata ini disebutkan dua kali yaitu : pertama  pada surah asy-Syu’ara’: 197 tentang Ulama Bani Isra’il. Kedua : pada  surah Fathir : 28. Keduanya berada pada konteks ayat yang memuji mereka. Pertama adalah Ulama dalam bidang agama. Sedangkan ayat kedua bersifat lebih umum baik ulama bidang agama atau bidang umum mengingat konteks ayatnya tentang fenomena alam, karena yang terpenting adalah orang yang ahli dalam bidang keilmuan apapun yang dengan ilmunya itu mereka tahu akan kebesaran Allah, lalu mereka takut kepada Allah.

Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ Ulumiddin” (Ihya’: 1/16, Maktabah Syamilah) menjelaskan bahwa Ilmu pengetahuan itu terbagi menjadi dua bagian besar, pertama adalah Ulum  Syar’iyyah seperti al-Qur’an, Hadis, atsar Sahabat, dll. Dan Ulum Ghair Syar’iyyah. Yang kedua ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu : yang terpuji (Mahmud), tidak terpuji (madzmum) dan mubah (boleh dipelajari). Ilmu Ghair Syar’i yang terpuji terbagi menjadi dua bagian: ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu kifayah seperti ilmu yang sangat dibutuhkan oleh manusia seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung (matematika), pertanian, pertenunan, jahit menjahit, politik, bekam dan lain sebaginya. Dan ada pula yang hukum mempelajarinya merupakan “fadlilah”(keutamaan) saja. Seperti memperdalam ilmu kedokteran, ilmu hisab. Sementara yang mubah seperti ilmu syi’ir dan ilmu akhbar (sejarah). Al-Ghazali berkata :

فإن أصول الصناعات أيضاً من فروض الكفايات كالفلاحة والحياكة والسياسة بل الحجامة والخياطة فإنه لو خلا البلد من الحجام تسارع الهلاك إليهم وحرجوا بتعريضهم أنفسهم للهلاك فإن الذي أنزل الداء أنزل الدواء وأرشد إلى استعماله وأعد الأسباب لتعاطيه فلا يجوز التعرض للهلاك بإهماله ) إحياء علوم الدين (1/ 16)

Artinya : dasar dasar ilmu terapan /eksperimental adalah bagian dari fardlu kifayah (kewajiban komunal) seperti : pertanian, pertenunan, politik, bahkan ilmu bekam dan jahit menjahit. Sebab jika dalam satu negeri, tidak ada seorang yang menekuni ilmu ilmu ini, maka penduduk negeri itu akan kewalahan. Allah yang menurunkan penyakit, juga yang menurunkan obatnya. Allah memerintahkan kepada manusia untuk melakukan upaya pencegahannya. Maka tidak boleh menelantarkan ilmu yang akhirnya menjadi sebab  manusia akan sangat direpotkan dalam kehidupan mereka..

 

Ilmuwan Muslim.

Dalam sejarah peradaban islam, terutama pada abad pertengahan, pergulatan kaum muslimin dengan ilmu saintis dan teknologi demikian intensnya. Kita jumpai banyak ilmuwan muslim yang sangat berjasa kepada dunia. Merekalah yang membukakan pintu peradaban barat sehingga seperti sekarang ini. Diantara mereka adalah :

701 (Meninggal) = Khalid Ibn Yazeed = Ilmuwan kimia
721-803 = Jabir Ibn Haiyan = Ilmuwan kimia (Seorang ilmuwan kimia muslim populer)
740 = Al-Asma’i = Ahli ilmu hewan, ahlitumbuh-tumbuhan, ahli pertanian
780 = Al-Khwarizmi (Algorizm) = Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi

Kitab al-Hayawan. Sebuah kitab berisi ensklopedia berbagai jenis binatang karya ahli ilmu hewan muslim al-Jahiz. Pada kitab ini al-Jahiz memaparkan berbagai macam teori, salah satunya mengenai interaksi antara hewan dengan lingkungannya.

776-868 = Amr Ibn Bahr al-Jahiz = Ahli ilmu hewan
787 = Al Balkhi, Ja’far Ibn Muhammad (Albumasar) = Astronomi
796 (Meninggal) = Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib = Astronomi
800 = Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus) = Kedokteran, Filsafat, Fisika, Optik
815 = Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud = Matematika, Sastra
816 = Al Balkhi = Ilmu Bumi (Geography)
836 = Thabit Ibn Qurrah (Thebit) = Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi
838-870 = Ali Ibn Rabban Al-Tabari = Kedokteran, Matematika
852 = Al Battani Abu Abdillah = Matematika, Astronomi, Insinyur
857 = Ibn Masawaih You’hanna = Kedokteran
858-929 = Abu Abdullah Al Battani (Albategnius) = Astronomi, Matematika
860 = Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus) = Astronomy, Tehnik Sipil
864-930 = Al-Razi (Rhazes) = Kedokteran, Ilmu Kedokteran Mata, Ilmu Kimia
973 (Meninggal) = Al-Kindi = Fisika, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Filsafat
888 (Meninggal) = Abbas Ibn Firnas = Mekanika, Ilmu Planet, Kristal Semu
900 (Meninggal) = Abu Hamed Al-Ustrulabi = Astronomi
903-986 = Al-Sufi (Azophi) = Astronomi
908 = Thabit Ibn Qurrah = Kedokteran, Insinyur
912 (Meninggal) = Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi) = Ilmu Kimia
923 (Meninggal) = Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi) = Matematika, Astronomi
930 = Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali = Kedokteran, Ilmu Kimia
932 = Ahmed Al-Tabari = Kedokteran
934 = Al-Istakhr II = Ilmu Bumi (Peta Bumi)
936-1013 = Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis) = Ilmu Bedah, Kedokteran
940-997 = Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani = Matematika, Astronomi, Geometri
943 = Ibn Hawqal = Ilmu Bumi (Peta Dunia)
950 = Al Majrett’ti Abu al-Qosim = Astronomi, Ilmu Kimia, Matematika
958 (Meninggal) = Abul Hasan Ali al-Mas’udi = Ilmu Bumi, Sejarah
960 (Meninggal) = Ibn Wahshiyh, Abu Bakar = Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan
965-1040 = Ibn Al-Haitham (Alhazen) = Fisika, Optik, Matematika

973-1048 = Abu Rayhan Al-Biruni = Astronomy, Matematika, Sejarah, Sastra
976 = Ibn Abil Ashath = Kedokteran
980-1037 = Ibn Sina (Avicenna) = Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi
983 = Ikhwan A-Safa (Assafa) = (KelompokIlmuwanMuslim)
1001 = Ibn Wardi = Ilmu Bumi (Peta Dunia)
1008 (Meninggal) = Ibn Yunus = Astronomy, Matematika.
1019 = Al-Hasib Alkarji = Matematika
1029-1087 = Al-Zarqali (Arzachel) = Matematika, Astronomi, Syair
1044 = Omar Al-Khayyam = Matematika, Astronomi, Penyair
1060 (Meninggal) = Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali = Kedokteran
1077 = Ibn Abi Sadia Abul Qasim = Kedokteran
1090-1161 – Ibn Zuhr (Avenzoar) = Ilmu Bedah, Kedokteran
1095 – Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace) = Astronomi, Kedokteran
1097 – Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) = Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Ilmu Kedokteran

1099 – Al-Idrisi (Dreses) = Ilmu Bumi (Geography), Ahli Ilmu Hewan, Peta Dunia (Peta Pertama)
1110-1185 – Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi = Filosofi, Kedokteran
1120 (Meninggal) – Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali =Ahli Kimia, Penyair
1128 – Ibn Rushd (Averroe’s) = Filosofi, Kedokteran, Astronomi
1135 – Ibn Maymun, Musa (Maimonides) = Kedokteran, Filosofi
1136 – 1206 – Al-Razaz Al-Jazari = Astronomi, Seni, Insinyur mekanik
1140 – Al-Badee Al-Ustralabi = Astronomi, Matematika
1155 (Meningal) – Abdel-al Rahman al Khazin =Astronomi
1162 – Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq = Kedokteran, Ahli Bumi (Geography)
1165 – Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) = AhliTumbuh-tumbuhan
1173 – Rasheed Al-Deen Al-Suri = Ahli Tumbuh-tumbuhan
1180 – Al-Samawal = Matematika
1184 – Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) =Ahli Logam, Ahli Batu-batuan
1201-1274 – Nasir Al-Din Al-Tusi = Astronomi, Non-Euclidean Geometri

1203 – Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din = Kedokteran
1204 (Meninggal) – Al-Bitruji (Alpetragius) = Astronomi
1213-1288 – Ibn Al-Nafis Damishqui = Astronomi
1236 – Kutb Aldeen Al-Shirazi = Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1248 (Meninggal) = Ibn Al-Baitar = Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botany)
1258 – Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi = Kedokteran, Matematika
1262 – Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini = Fisika, Astronomi
1273-1331 – Al-Fida (Abdulfeda) = Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1360 – Ibn Al-Shater Al Dimashqi = Astronomi, Matematika
1320 (Meninggal) – Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan =Astronomy, Fisika
1341 (Meninggal) – Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer = Ilmu Kimia
1351 – Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha = Matematika, Astronomi
1359 – Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha = Matematika, Astronomi[2]

Ayat Ilmiyah

Yang dimaksud dengan ayat ilmiyah ialah ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan umum (sains dan Teknologi). Diatas dijelaskan tentang jumlah ayat dalam Al-Qur’an yaitu 6236 ayat dalam hitungan Ulama Kufah . dari jumlah itu ada ayat ayat yang terkait dengan Hukum Syar’i jumlahnya sekitar 500. Sementara itu senurut sebagian kalangan ayat yang terkait dengan sains dan teknologi sekitar 700 ayat. Hal ini menunjukkan urgensi ayat ayat tersebut dalam mengajak manusia untuk menghayati kebesaran Allah di alam semesta. Dalam kitabnya “al-Itqan” Imam Sayuthi menukil dari Ibn al-Fadl al-Mursi dalam tafsirnya bahwa Al-Qur’an mencakup Ilmu orang terdahulu (al-awwalin) dan orang terkemudian (al-akhirin). Dengan berpedoman pada ayat : 38 surah al-An’am, yang menyatakan bahwa Allah tidak meninggalkan segala sesuatu dalam “kitab” ini,  Al-Mursi kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah digeluti oleh para banyak ulama, sesuai dengan keahliannya masing masing,  seperti ahli tafsir, ahli nahwu, ahli bahasa, ahli ushuludin, ahli ushul fikih,  ahli qira’at, ahli balaghah, Ahli kemukjizatan Al-Qur’an. Disamping itu dalam Al-Qur’an juga ada unsur sejarah, kisah masa lalu,  ada takwil mimpi, dan lain sebagainya. Yang penting dari bagian penjelasannya adalah penyebutan cabang cabang ilmu pengetahuan dan ayat ayat yang mengisyarahkan tentang ilmu ilmu tersebut,  sebagaimana tabel dibawah ini :

Cabang Ilmu Ayat Cabang Ilmu Ayat
الطِّبِّ : الأجسام والقلوب {وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً}{شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ}( وشفاء لما فى الصدور) وَالصَّيْدِ (فاصطادوا)

(أحل لكم صيد البحر)

 

 

وَالْجَدَلِ (ألم تر إلى الذى حاج ابراهيم فى ربه أن آتاه الملك ) وَالْغَوْصِ {كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ}

{وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً}

وَالْهَيْئَةِ (إن فى خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولى الألباب) وَالصِّيَاغَةِ {وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلاً جَسَداً}
وَالْهَنْدَسَةِ {انْطَلِقُوا إِلَى ظِلٍّ ذِي ثَلاثِ شُعَبٍ} وَالزِّجَاجَةِ {صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ} {الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ}
وَالْجَبْرِ وَالْمُقَابَلَةِ فى أوائل السور ما يشير إلى شئ من ذلك والفخارة {فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ}
وَالنِّجَامَةِ {أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ} والملاحة {أَمَّا السَّفِينَةُ فكانت لمساكين يعملون فى البحر} الآية
كَالْخَيَّاطَةِ {وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ} والكتابة {عَلَّمَ بِالْقَلَمِ}
والحدادة {آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ} ؛ {وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ} وَالْخَبْزِ {أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزاً}
وَالْبِنَاءِ وَالنِّجَارَةِ

 

 

{وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا} والطبخ {بِعِجْلٍ حَنِيذٍ}
والغزل  وَالنَّسْجِ {نَقَضَتْ غَزْلَهَا}

{كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً}

الغسل) (والقصارة) ( وثيابك فطهر) (قال الحواريون) وهم القصارون
والفلاحة {أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ}

 

Catatan terhadap apa yang dikemukakan oleh al-mursi diatas adalah:

Pertama :  bahwa Al-Qur’an memang mengisyaratkan akan adanya pengetahuan umum diatas, tapi bukan berarti bahwa Al-Qur’an adalah sumber dari ilmu ilmu tersebut, karena pertama : Al-Qur’an bukanlah kitab sains dan teknologi, tapi Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang didalamnya terdapat isyarat isyarat tentang ilmu pengetahuan. Kedua: Tidak ada ilmuwan yang pandai gara gara mempelajari ayat tersebut.

Kedua : ayat ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an berpencar ke segala arah, pada umumnya pada surah surah Makkiyyah dan ber interaksi dengan ayat ayat lainnya dalam topik yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sendiri telah melakukan integrasi keilmuan dan tidak membedakan antara ilmu ilmu naqli (al-‘ulum asy-Syar’iyyah) dan al-‘Ulum at-Tajribiyyah (eksak, eksperimental) sejak pertama kali diturunkan. Semuanya adalah dari Allah dan bermanfaat bagi manusia.   Keduanya tidak bisa terpisahkan. Ilmu Umum adalah ladang manusia untuk hidup di dunia dan Ilmu Agama untuk mengarahkan kehidupan manusia agar kehidupan mempunyai makna dan manusia selalu berada pada jalan yang benar.

Lihat misalnya cerita tentang ketangguhan para Jin pada masa Nabi Sulaiman yang mampu membuat berbagai macam kebutuhan manusia seperti “Maharib” (gedung gedung yang tinggi), “tamatsil” (patung patung), “Jifan” (piring piring yang besarnya seperti kolam), “Qudur”(periuk periuk) (Lih. surah Saba’: 13).  Lalu seorang ilmuwan (Malaikat Jibril ? ) pada masa nabi Sulaiman mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman menuju Palestina dalam hitungan detik saja (an-Naml: 44. Kedua ayat ini bagian dari ayat ayat Sains. Al-Qur’an mengarahkan ayat ayat seperti ini diletakkan pada bingkai keimanan kepada Allah dan untuk menjadi pertanda kekuasaan Allah. kemudian bagaimana sikap Nabi Sulaiman dengan semua nikmat Allah yang diberikan kepadanya.  (Lih. Surah Saba’ : 13, an-Naml: 44).

Pada bagian lain, Al-Qur’an bercerita tentang kemajuan peradaban pada kaum kaum terdahulu, dimana mereka mampu melakukan pekerjaan pekerjaan besar, seperti kaum ‘Ad di Yaman yang mampu membuat bangunan bangunan yang tinggi, kaum Tsamud yang sanggup memotong batu batu besar untuk dijadikan hunian mereka, lalu Raja Fir’aun yang mempunyai pasak pasak (bangunan yang besar) (Lih. surah al-Fajr: 1-10). Begitu juga kaum Saba’ di Yaman yang mempunyai bumi yang subur makmur. Kawasan itu diapit oleh dua perkebunan (Lih. Surah Saba’:15). Namun Allah tidak bangga dengan peradaban peradaban tersebut manakala pemilik peradaban itu tidak mau sujud dan patuh kepada Allah, bahkan durhaka kepadaNya. Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang amat pedih. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi umat setelahnya bahwa kemajuan sains dan teknologi tidak akan berarti apa apa manakala tidak sejalan dengan pesan pesan Allah.

Penutup

Dari uraian diatas, jelaslah bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengintegrasikan antara ilmu agama (ilmu Syar’i/naqli) dan ilmu Aqli/filsafat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya diperlukan dalam kehidupan dunia ini. Jika umat islam ingin maju seperti sedia kala, maka kedua ilmu itu harus terus dipelajari dan diamalkan dalam kehidpan di masyarakat. Dengan demikian Visi dan Misi Allah dalam memercayakan umat manusia semenjak dari zaman Nabi Adam sebagai “Khalifah” di bumi, akan terpenuhi. Persoalannya adalah bagaimana kaum muslimin mendesain dan memetakan program pengajaran kedua cabang ilmu tersebut di institusi pendidikan mereka ?. Berapa porsi ilmu ilmu keislaman harus diberikan pada sekolah sekolah umum dan materi apa saja yang  harus menjadi perioritas, dan berapa persen ilmu umum yang harus diberikan kepada sekolah sekolah agama ? .  Persoalan “Azmat at-Ta’lim al-Islami” (Krisis Penddikan Islam) Inilah pekerjaan rumah yang belum pernah selesai hingga saat ini.  Kita berharap ada institusi pendidikan yang mau melakukan trobosan ke arah ini, agar para pelajar di dua lingkungan yang berbeda bisa menatap masa depan mereka dengan penuh keoptimisan.

Pesantren Dar al-Qur’an – Kebon baru

9 Desember 2015.

 

Refferensi:

  1. Ihya Ulumiddin: al-Ghazali
  2. al-Itqan : Sayuthi.
  3. Revolusi Saitifik Iran : Husein Herianto. Penerbit Universitas Indonesia 2013.
  4. Tafsir Ibn Katsir
  5. Al-‘Ilmu wal ‘Ulama : Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.
  6. Tafsir as-Siraj al-Munir : Muhammad ibn Ahmad Al-Khathib As-Saribini asy-Syafi’i
  7. Ushul al-Fiqh wa Khulashah Tariks at-Tasyri’ al-Islami : Abdul Wahhab al-Khallaf.
  8. al-‘Awashim min al-Qawasim, al-Wazir al-Yamani

 

[1] Makalah ini disampaikan dihadapan Civitas Akademica Institut Agama Islam Tri Bhakti Lirboyo Kediri dengan tema : “Integrasi Keilmuan Islam dan Umum : Kajian Perspektif Filosofis dan Sains” pada tanggal 13 Desember 2015.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_ilmuwan_Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here