Home Berita International Conference & Call for Paper: Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis...

International Conference & Call for Paper: Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Moderasi Beragama

346
0
SHARE

KEDIRI – Pada hari Selasa, tanggal 15 Maret 2022, Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri mengadakan Proseding Seminar Internasional dan call for Paper dengan tajuk “Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Moderasi Beragama”. Dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh narasumber dari dalam negeri dan luar negeri, diantaranya Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Mas’ud Said, Ph.D dari Uinversitas Islam Malang, Dr. Siti Marpuah, M.Ed dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia serta Syeikh Muhammad Kheder Abu Nashr, Ph.D dari Al Azhar University Mesir. Dalam Kesempatan ini dihadiri pula oleh Rektor IAI Tribakti Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc, MA., Direktur Pascasarjana Dr. H. Abbas Sofwan MF, LL.M. dan di moderatori oleh Dr. Marita Lailia Rahman, M.Pd.

Acara digelar di Aula Mahrus Aly dan berlangsung dialektis dan penuh hangat selama hampir 3 jam. Ketika menyampaikan sambutan, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc, MA mengucapkan terima kasih kepada para narasumber telah berkenan hadir dan merasa terhormat karena IAI Tribakti dapat menjadi tuan rumah proseding intternasional pada tahun ini, tak lupa juga beliau menyampaikan selamat datang kepada para hadiri dan mohon maaf jika belum menyediakan segala hal secara maksimal.

Selanjutnya di jelaskan bahwa selama pandemi, proses pembelajaran di Institut Agama Islam Tribakti mengalami banyak perubahan karena menyesuaikan dengan keadaan serta peraturan-peraturan dari pemerintah, sehingga menuntut institusi Pendidikan dapat mengambil berbagai inisiasi serta inovatif guna menunjang jalannya belajar mengajar ditengah pandemic yang belum reda. Ketika seluruh kegiatan pembelajaran terhenti dan lockdown kurang lebih selama sebulan, membuat pihak dekanat dan jajaran berpikir untuk bangkit dalam keterpurukan. Segala hal diupayakan untuk dicoba guna dapat memberikan layanan dan perkuliahan, tentunya dengan tetap menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Berbagai jenis kegiatan dilakukan secara online atau daring dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang familliar diantaranya whatsapp, google classroom, google meet, dan zoom meeting. Semua bentuk perkuliahan dan berbagai bentuk ujian (proposal, skripsi, tesis, dan PPG) dilakukan secara daring atau online kecuali mata kuliah praktik diizinkan untuk luring.

Narasumber pertama yaitu Prof. Mas’ud Sa’id, Ph.D. dari Malang yang sekaligus menjadi ketua ISNU Jawa Timur (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) mengungkapkan bahwa dalam masa pandemi seperti ini lembaga Pendidikan harus tetap mampu menjaga eksistensinya terlebih dalam mempertahankan pemikiran mahasiswanya agar selalu berada dalam jalur moderat. Karena masyarakat dalam situasi pandemi seperti ini sangat rentan di tengah gempuran problematika ekonomi, sosial serta politik. Dan beliau menyampaikan rasa syukur menjadi warga negara Indonesia, karena diluar baik di Barat maupun Timur, stabilitas kehidupan beragama maupun bernegara banyak yang rapuh dalam mempertahankan konsep moderasi. Ini yang harus tetap dipertahankan.

Pembicara selanjutnya yaitu Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si. diawal beliau menyampaikan bahwa beliau merasa menjadi santri Lirboyo karena kedekatannya khususnya dengan almaghfurllah Romo KH. Idris Marzuqi dan Romo KH. Anwar Mashur. Karena di satu acara KH. Idris pernah beliau bela ketika di Lirboyo mengadakan seminar tentang Pendidikan, ada salah satu pembicara dari Departemen Pendidikan Jakarta menyampaikan agar Lembaga Pendidikan bisa maju Ketika menerapkan 8 standart Pendidikan. Kemudian Prof. Imam menyampaikan dengan nada canda, “Ya baik baiklah punya standart, tapi tanpa standart 8 itu, Pondok Pesantren Lirboyo sudah melahirkan banyak Kyai dan Tokoh Masyarakat, Standar Kyai Idris itu hanya satu Innamā al-‘amālu bi al-niyāt…”. Pada dasarnya niat itu adalah pokok segala hal, maka dalam Pendidikan 8 standart Pendidikan dari Departemen Pendidikan kalau niatnya salah maka juga tidak akan berhasil. Proses Pendidikan di Pondok Pesantren adalah role model Pendidikan yang dibutukan zaman sekarang, karena tidak hanya mengajarkan ilmu tetapi juga mengajarkan akhlaqul karimah, keikhlasan serta budi pekerti yang baik. Maka sudah sepatutnya sistem Pendidikan modern melirik bagaimana konsep yang diajarkan oleh Pondok Pesantren.

Hal serupa di sampaikan oleh Dr. Siti Marpuah, M.Ed. bahwa di Malaysia sendiri sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di Indonesia, karena Malaysia dan Indonesia adalah negara serumpun maka dalam konsep beragamapun sama-sama memperjuangkan moderasi baik dalam dunia Pendidikan, ekonomi serta sosial. Beberapa yang berbeda karena memang dalam kondisi masyarakatnya berbeda. Maka perlu strategi khusus yang dapat digunakan untuk mencapai achievement of educational system.

Di penghujung diskusi, Narasumber dari Mesir yaitu Muhammad Kheder Abu Nashr yang berhalangan hadir menyampaikan pesan-pesan agar dunia Islam harus tetap mempertahankan konsep moderat sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena apabila moderasi dalam beragama hilang, maka masyarakat akan jatuh pada lubang ekstrimisme baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Maka, tidak hanya di Mesir tetapi di semua negara serta masyarakat Islam agar senantiasa mengkaji dan menguatkan konsep moderat dalam kehidupannya.

www.iai-tribakti.ac.id | facebook : iaitkediri | Instagram : iait.kediri | Youtube : Tribakti Kediri