Home Berita Abdullah Jia, Pejuang Ilmu di Pascasarjana IAI Tribakti Asal Ende

Abdullah Jia, Pejuang Ilmu di Pascasarjana IAI Tribakti Asal Ende

433
0
SHARE

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Nama saya Abdullah Jia, kelahiran Wolooja, pada 24 Mei 1998. Saya adalah seorang perantauan dari Desa Rindiwawo, Kec. Wolowaru, Kab. Ende, Prov. Nusa Tenggara Timur. Ini adalah cerita dan kenangan singkat saya ketika menjadi seorang perantauan yang ingin menuntut ilmu di Program Magister Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri.

Pada saat rekrutmen mahasiswa baru Program Magister Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri untuk angkatan 2021-2022, sedikit ada kenangan tersendiri. Ikut tes masuk gelombang pertama rasanya seru juga. Waktu itu tes masuknya lewat online karena masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Hal yang tidak terlupakan adalah ketika jadwal tes onlinenya saya lupa dan saya tidak mempersiapkan diri yang lebih matang untuk menghadapi ujian masuk program magister tersebut. Ada teman yang baik hati, ia menelpon saya dan memberitahukan bahwa tes masuknya akan segera dimulai. Dari situlah saya merasa was-was, kemudian mencari informasi dengan teman yang dari makasar dan juga teman yang dari daerah saya sendiri, menanyakan persiapan kami masing-masing. Saya waktu itu berdo’a dalam hati, semoga kami bisa lulus dalam tes masuk program magister Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri.

Ada tiga bagian soal dalam sesi tes masuk Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri, antara lain adalah Tes Potensi Akademik, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. So, coba-coba lah ya belajar sebelumnya biar nilainya gak malu-maluin banget apabila terungkap di publik.

Mulailah saya mengerjakan soal-soal tersebut dengan deg-degan dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 12.00 siang. Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Akan tetapi saya tidak merasa tenang. Kemudian saya mencoba menelpon teman saya yang ada di Makassar dan teman saya yang ada di daerah saya di Nusa Tenggara Timur, cuman beda kabupaten. Mereka juga merasakan hal yang sama dengan saya, tapi saya memotivasi teman-teman dan berharap semoga kita lulus tes masuknya agar bisa kuliah bareng-bareng di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri. Tak lama kemudian sekitar dua minggu, ada pesan dari grup Whatsapp masuk berdering di handphone saya. Deg-degan juga membuka dokumen yang dikirim oleh Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Kemudian saya mengecek satu persatu nama-nama yang lulus tes masuk, dan alhamdulillah ternyata nama saya juga tercantum di data tersebut. Betapa bahagianya saya.

Motivasi utama saya adalah ingin belajar lagi. Motivasi selanjutnya adalah meraih gelar magister di kampus Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri yang dikenal dengan kuliah sekaligus mondok dan barokah para kiai merupakan cita-cita dan impian saya sebagai salah satu titik pencapaian hidup. Pada dasarnya, saya memang pribadi yang suka belajar hal-hal baru. Saat itu saya juga ingin menambah pengalaman baru belajar di Kediri disamping saya juga mondok di pondok pesantren Darul Falah IV – Cukir, Diwek, Jombang. Tentunya banyak hal positif mengambil studi S2 di kampus Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo, karena saya juga bisa berjumpa dengan teman-teman baru dari berbagai daerah di kelas. Ada yang dari Jambi, Pontianak, Kalimantan, Lampung, Kepulauan Riau dan juga Makassar.

Begitulah kisah singkat saya hingga akhirnya menjadi mahasiswa di Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri. Saya Kembali lagi merantau ke Jawa dan saat ini masih berjuang di semester dua dan insya Allah akan melanjutkan ke semester tiga. Semoga cerita singkat ini bisa menjadi motivasi yang baik dan bermanfaat untuk pembaca. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Penulis,
Abdullah Jia
Mahasiswa Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri