Home Kolom Dosen Kaidah yang Menjadi Dasar Syukur

Kaidah yang Menjadi Dasar Syukur

90
0
SHARE

Kaidah yang Menjadi Dasar Syukur

Sobat. Jika engkau merasa sedih, maka bersyukurlah sebab akan ada kebahagiaan yang kau rasakan ! Jika kau disakiti, maka bersabarlah karena di sanalah kau belajar untuk memaafkan ! Jika kau didera masalah dan kesulitan, maka bertahanlah sebab akan ada dua kemudahan.
Fainna ma’al ‘usri yusra, inna maál usri yusran. Di balik kesusahan ada kemudahan dan dibalik kesusahan sesungguhnya ada kemudahan. Bertahanlah dengan ujian kecil, karena betapa banyak ujian kecil menjadikan orang-orang besar.

Sobat. “Syukur itu adalah penampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan, pada hatinya terdapat pengakuan dan cinta, dan pada anggota tubuhnya terdapat keyakinan dan ketaatan.” Demikian kata Ibnu Qayyim.
Syukur lisan adalah membicarakan (tahaddus) akan nikmat Allah SWT yang telah diterimanya. Sebagaimana firman-Nya :
وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” ( QS. Adh-Dhuha (93) : 11 )

Sobat. Dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi kepada Nabi Muhammad agar memperbanyak pemberiannya kepada orang-orang fakir dan miskin serta mensyukuri, menyebut, dan mengingat nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Menyebut-nyebut nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita bukanlah untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk mensyukuri dan mengharapkan orang lain mensyukuri pula nikmat yang telah diperolehnya. Dalam sebuah hadis, Nabi saw mengatakan:
Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia tidak mensyukuri Allah. (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah).

Kebiasaan orang-orang kikir sering menyembunyikan harta kekayaannya untuk menjadi alasan tidak bersedekah, dan mereka selalu memperdengarkan kekurangan. Sebaliknya, orang-orang dermawan senantiasa menampakkan pemberian dan pengorbanan mereka dari harta kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka dengan menyatakan syukur dan terima kasih kepada Allah atas limpahan karunia-Nya itu.
Sobat. Syukur dengan perbuatan (arkan ) adalah melakukan ketaatan pada Allah. Sebagaimana firman-Nya :
يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” ( QS. Saba’ (34) : 13 )
Sobat. Oleh sebab itu, mereka dengan giat sekali melaksanakan apa yang diperintahkan Sulaiman, seperti membangun tempat-tempat beribadah, arca-arca yang indah yang terbuat dari kayu, tembaga, kaca, dan batu pualam, serta belanga-belanga besar untuk memasak makanan yang cukup untuk berpuluh-puluh orang. Karena besar dan luasnya, bejana-bejana itu kelihatan seperti kolam-kolam air. Mereka juga membuatkan untuk Sulaiman periuk yang besar pula yang karena besarnya tidak dapat diangkat dan dipindahkan. Karena jin mempunyai kekuatan yang dahsyat, dengan mudah mereka membuat semua yang dikehendaki Sulaiman seperti membangun istana yang megah dan mewah, serta menggali selokan-selokan untuk irigasi sehingga kerajaan Sulaiman menjadi masyhur sebagai suatu kerajaan besar dan paling makmur, tidak ada suatu kerajaan pun di waktu itu yang dapat menandinginya. Hal ini ialah sebagai realisasi dari doanya yang dikabulkan Tuhan seperti tersebut dalam firman-Nya.
Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. (shad/38: 35-37)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Sulaiman sebagai keluarga Daud supaya bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya. Mensyukuri nikmat Allah itu bukanlah sekadar mengucapkan, tetapi harus diiringi dengan amal saleh dan mempergunakan nikmat itu untuk hal-hal yang diridai-Nya.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad naik ke atas mimbar lalu membaca ayat ini. Lalu beliau bersabda, “Ada tiga sifat bila dipunyai oleh seseorang berarti dia telah diberi karunia seperti karunia yang diberikan kepada keluarga Daud.” Kami bertanya kepada beliau, “Sifat-sifat apakah itu?” Rasulullah menjawab, “Pertama: Berlaku adil, baik dalam keadaan marah maupun dalam keadaan senang. Kedua: Selalu hidup sederhana baik di waktu miskin maupun kaya. Ketiga: Selalu takut kepada Allah baik di waktu sendirian maupun di hadapan orang banyak.
Allah mengiringi perintah-Nya supaya Sulaiman bersyukur atas nikmat yang diterimanya dengan menjelaskan bahwa sedikit sekali di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar bersyukur kepada-Nya. Bagaimana seorang hamba bersyukur kepada Tuhannya dapat dilihat dari cara bersyukur Nabi saw kepada Allah.
Dari ‘aisyah bahwa Rasulullah salat di malam hari sampai kedua telapak kakinya bengkak, maka aku (‘Aisyah), berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat seperti ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang sekarang dan dosamu yang akan datang?” Rasulullah menjawab, “Bukankah aku ini seorang hamba yang bersyukur?” (Riwayat Muslim)
Sobat. Syukur dengan hati yaitu pengakuan bahwa setiap nikmat yang ada pada dirimu atau pada hamba lainnya semata-mata dari Allah. Allah SWT berfirman :
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl (16) : 53 )

Sobat. Selanjutnya Allah swt menjelaskan mengapa yang wajib ditakuti hanyalah Allah. Hal itu karena semua nikmat yang mereka peroleh, seperti kesehatan dan kebahagiaan, semata-mata dari Allah. Maka kewajiban manusialah untuk mensyukuri nikmat dan memuji kebaikan-Nya yang tiada terputus kepada makhluk-makhluk-Nya.
Sebaliknya, apabila manusia ditimpa oleh kesukaran hidup, kesulitan, penyakit, dan sebagainya, kepada Allahlah mereka mengeluh dan meminta pertolongan. Hal ini merupakan tabiat manusia bahwa apabila mereka berada dalam kesulitan, terbayanglah dalam pikiran kelemahan mereka dan adanya kekuasaan di luar diri mereka yang menguasai mereka.
Sobat. Berikut ini beberapa kaidah syukur yang merupakan fondasi dasar dari syukur :
1. Kaedah Pertama : Tunduknya orang bersyukur kepada Allah. Kau tundukkan dan hinakan dirimu di hadapan Tuhanmu. Tidak ada pemberi rezeki, tiada pengawas urusan makhluk, tiada pencipta, tiada pemberi, tiada pencegah rezeki, tiada pemberi manfaat dan mudharat selain Allah SWT.

2. Kaedah kedua : Cintamu hanya untuk-Nya. Sudah lumrah jika kau mencintai Dzat yang memberimu nikmat dan yang mengulurkan kebaikan padamu. Hati bergejolak untuk mencintai Dzat yang telah berbuat baik padanya. Apakah logis jika ada orang yang tidak mencintai Sang Pemberi Rezeki, yang telah mencukupi keperluannya dan memberkahinya?

3. Kaedah ketiga : Pengakuanmu atas nikmat-nikmat-Nya. Sungguh setiap kemikmatan dan pemberian berasal dari Allah SWT. Temanmu tidak punya kuasa untuk memberimu sesuatu. Direkturmu juga tidak dapat menolak mudharat atasmu. Begitupun gurumu tidak dapat membuatmu naik kelas. Semuanya merupakan karunia Allah SWT.

4. Kaedah keempat : Pujian hanya untuk-Nya. Perbanyaklah pujian pada Allah. Dzikir lisan, dan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan padamu. Ingatlah sobat pada saat kau mulai sholat selalu diawali dengan bacaan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin kemudian kau mengakhirinya dengan bacaan ‘Innaka hamidun majid . Perbanyaklah pujian pada Tuhanmu Dzat Pemberi nikmat.

5. Kaedah kelima : Jangan gunakan nikmat-nikmat-Nya untuk kemaksiatan. Setelah kau menerima nikmat sedemikian besar yang memenuhi hidupmu, apakah logis jika kau balas semua nikmat itu dengan kekufuran, keingkaran, dan maksiat?
Sobat. Ingatlah nasihat Rasulullah SAW pada Muadz, “ Wahai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku mencintaimu, jangan pernah kau tinggalkan doá ini setiap kali selesai sholat : Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika – Ya Allah tolonglah hamba untuk senantiasa berdzikir dan bersyukur pada-Mu, serta beribadah pada-Mu dengan baik.” Semakin jauh kau mengenal Tuhanmu (Allah) dan merasa berada dalam genggaman-Nya, maka kau akan merasa bahwa syukurmu sangatlah kurang.

( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo. Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur )